Oleh: naive7 | 13 Desember 2009

Email Idhul Adha Di Bontang-Samarinda (2)

GUNUNG MENANGIS

Ini cerite ke 2 dari serial kisah ini nyang diceritain lagi oleh Bang Naip ‘based on’ email Pak Yuliansyah nyang panjang. Liat di cerita sebelonnye jilid 1 di https://naive7.wordpress.com/2009/12/11/email-idhul-adha-di-bontang-samarinda-1/
Lanjutannya niy:

Masih ditengah perjalanan Bontang-Samarinda, penunjukan Km dalam cerita ini berpedoman pada Km yang ada di mobil kami. Kemudian melalui perkampungan di Km 24 yang ditengah-tengahnya ada Polsek setempat.
Pada Km 29,6 yang ditunjukkan di dashboard kendaraan kami, posisi kami di bagian atas ‘Gunung Menangis’. Dinamakan Gunung Menangis karena jika kendaraan kita dari arah berlawanan (dr Samarinda), maka suara mesin kendaraan terasa berat, menaiki tanjakan jalan yg curam sekira 1 Km. Mesin kendaraan seperti merintih menangis ngos2an melalui tanjakan terjal lebih dari 45 derajat.

DAERAH BAWAH GN MENANGIS

Menuruni gunung menangis di km 30,6 dr Bontang, ini posisi di bagian bawah “gunung”.
Mampir untuk rehat sejenak en beli tahu sumedang di RM Tahu Sumedang pada km 39,5.
Melewati RM Kenari Km 40, menyediakan juga jagung manis rebus yang pake bumbu garam plus cabe merah ditambahin jeruk nipis sedikit. Wooouuwww… nikmatnya. Secara rumah makan ini berciri khas menu belibis goreng dan bersuasana kuring (Sunda) lesehan.
Kemudian berturut-turut melalui simpang Marangkayu, daerah pesisir Timur Kaltim di Km 53. Melalui PIR Tower Telkom Km 57, daerah RM ‘Bunda’ dekat kuburan di Km 60 didaerah Karetan, dimana kiri kanan jalan banyak pohon karet.
Bukit tengkorak di km 78.
500 meter dr Bukit Tengkorak, belok kanan, lewat Jl. Persatuan, jalan baru sepanjang 4 km, tembus ke Simpang Sambera, yaitu simpangan jalan menuju ke Muara Badak di Km 83 dari Bontang. Ada pom bensin Pertamina yg buka, kami isi bensin di Km 83,5.
Mampir di RM Tahu Sumedang Km 88.
Lewat Kebun Raya Unit Samarinda (KRUS).
Masuk Samarinda pkl 14.15 Wita. Perkiraan waktu perjalanan kami menempuh Bontang – Samarinda 2 jam 34 menit. Kalau dikurangi mampir2 di jalan, maka waktu tempuh kami sebenarnya sekitar 2 jam saja dan si Irfan mengendarai kijangnya tidak ngebut, antara 60 – 80 km/jam.
Silaturrahmi sebentar dengan sanak famili kami di Samarinda.
Istirahat sesudah sholat jama zuhur en ashar di langgar Nurul Huda jl danau toba samarinda.
Keesokan harinya kami terinspirasi dari cerita Bang Naip sewaktu ke Samarinda mencoba sarapan di warung kopi helam. Kali ini kami mau mencoba di warung kopi helam Hai Nan yg terletak di kompleks Citra Niaga.
Setelah dari Hai Nan kami melihat prosesi pemotongan sapi kurban di depan Langgar Nurul Huda Jl. Danau Toba, Samarinda.
Siangnya kami jalan2 ke kota Tenggarong dan mencoba kuliner di rmh makan pas tepian mahakam di depan istana sultan kutai, Tenggarong. Namanye RM Tepian Pandan.

warkop hainan

Aneka roti hainan

Langgar Nurul Huda - Samarinda

Selai 'helam jadul' srikaya

Panitia Qurban Langgar Nurul Huda

RM Tepian Pandan - Tenggarong

Foto en cerita laen ditampilin di cerita jilid 3 selanjutnye yee.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: