Oleh: naive7 | 23 Januari 2013

Comments: Pengantar Menuju Studi Komunitas JAZZ di Indonesia (1)

diana krall "JAZZ pianist & singer" courtesy topbollywood2011dotblogspotdotcom

Dikutip dari http://jazzkaltim.wordpress.com (JK) sebagai berikut:
Sekarang giliran agak serius ngebahas musik JAZZ. Karena pakai “daftar pustaka” segala. Artikel di http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/11/09/pengantar-menuju-studi-komunitas-jazz-di-indonesia/
Seperti biasa, comments JK dalam bentuk font italic. Karena panjang, tulisan dibagi 2. Ini tulisan ke 1 dari 2 serial. Okay kita mulai:
Posted on 09 November 2010 by Oki Rahadianto M.Si.
Produksi pengetahuan terdahulu mengenai komunitas jazz di Amerika masih diwarnai oleh diskriminasi rasial. Sebagai contoh, studi mengenai komunitas jazz yaitu The Jazz Community karya Mirriam dan Womack (1960) dan Theory of Jazz Communities karya Stebbins (1968) masih menggunakan teori labelling, komunitas jazz dianggap menyimpang dan terisolasi dari komunitas yang lain.

diana krall courtesy celebs101dotcom

Mirriam dan Womack (1960) menjelaskan bahwa ada berbagai alasan mengapa publik Amerika saat itu menolak eksistensi komunitas jazz antara lain: komunitas jazz identik dengan kejahatan, sifat buruk serta promiskuitas, anggapan bahwa musik jazz tidak berasal dari kultur pendidikan (dalam arti musik klasik) dan juga anggapan bahwa musik jazz ini akan menjadi ancaman bagi musik orang kulit putih.

Obama and Stevie Wonder_COURTESY_myvickierubinsonDOTcom

JK: Di era sekarang ini, era dimana Presiden Obama naik tahta di Amerika, pendapat yang memisahkan orang kulit putih dan negro dalam bermusik JAZZ bisa jadi tidak nge-trend lagi. Memang benar, secara historis musik JAZZ dibawakan oleh budak negro di Amerika jadul untuk curhat sambil menyuarakan irama gospel. Namun, cerita yang berbau rasisme nampaknya saat ini sudah tidak laku lagi.
Meskipun didominasi oleh reproduksi pengetahuan yang diskriminatif namun berbagai counter dilakukan, antara lain: The Community that Gave Jazz to Chicago karya Ted Vincent (1992) membahas mengenai peranan komunitas kulit hitam di Chicago bagi kesuksesan jazz era roaring twenties. Salah satu yang berperan adalah Jack Johnson seorang petinju kulit hitam yang ikut membangun club tempat dimainkannya musik jazz.

miles davis courtesy dailymaildotcodotuk

Bahkan atas perannya bagi komunitas kulit hitam, Miles Davis (pioner fusion jazz) meluncurkan album “A Tribute to Jack Johnson” pada tahun 1971.
JK: Di tahun 60an peran seperti ini dilakoni oleh sang suara emas JAZZ di jamannya, Nat King Cole, dengan hits andalannya L.O.V.E. dan Unforgetable.
Buku-buku mengenai jazz yang lain lebih banyak menjelaskan bagaimana jazz merupakan percampuran antara berbagai budaya seperti Karibia, Afrika yang dibawa oleh budak-budak kemudian bercampur dengan budaya dari Eropa dan kemudian dalam perkembangannya menjadi blues, ragtime, dixie lalu kemudian muncullah “jazz”. Jazz kemudian mulai berkembang menjadi style-style yang berbeda, seperti swing, cool, bebop, hardbop, latin jazz, funk jazz dll. Varian-varian tersebut mempunyai narasi sendiri mengenai proses kemunculannya di Amerika (Wheaton, 1994; Meeder, 2008). Kebanyakan sejarah jazz yang ada hanya menceritakan versi resminya saja (Deveaux, 1991).

nat king cole

JK: Varian JAZZ standard tadi melahirkan sub-genre antara lain: fusion, afro-cuban JAZZ, rockn’ JAZZ, brazilian wave “bossanova”, acid JAZZ, JAZZ groovy, dan lain-lain. Kesemuanya itu memadukan unsur JAZZ dengan genre musik lain, misalnya rock, latin, cha cha, waltz, pop, R & B, dan sebagainya.

Alm. Ir. Sudibyo PR

Lalu bagaimana reproduksi pengetahuan mengenai jazz di Indonesia? Studi-studi mengenai komunitas jazz di Indonesia masih jarang dilakukan, meskipun begitu terdapat berbagai studi dengan fokus yang berbeda. Wawancara yang dilakukan oleh wartajazz.com dengan Sudibyo Pr (2001) misalnya menjelaskan bahwa masuknya jazz di Indonesia dibawa oleh penjajah Belanda melalui piringan hitam dan banyak ditampilkan pada pesta-pesta elite kolonial. Musik jazz banyak dipertunjukkan di gedung societet, hanya kalangan tertentu saja yang dapat mengaksesnya. Seiring perjalanan waktu, jazz lebih berkembang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar. Pasca kemerdekaan, musik jazz masih banyak diperdengarkan di tempat-tempat elite seperti café ataupun hotel berbintang.

diana krall courtesy bigpondmusicdotcom

JK: Hal ini yang menimbulkan anggapan bahwa musik JAZZ adalah musik kelas “atas.” Pada kenyataannya di beberapa daerah urban kota-kota besar Indonesia, terdapat komunitas penggemar JAZZ dari kelas “bawah.” Hanya keterbatasan akses dan kemampuan lah yang membuat komunitas ini tidak terpublikasi. Di lain pihak, sebagian kalangan yang mengaku dari kelas “atas” tadi, yang mempublikasikan diri sebagai JAZZ mania, sebagian malah hanya supaya dianggap mempunyai selera musik “high class” atau hanya sebagai gengsi saja.

diana krall courtesy pastemagazinedotcom


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: